Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Thursday, April 20, 2017

Pada kesempatan ini, admin menjelaskan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dikembangkan pertama kali oleh Aronson, dkk di Universitas Texas. Pada sebuah artikel Yasa (2008) disebutkan bahwa: Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan (beragam), bekerja sama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota dari kelompok lain.


Keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Dalam hal ini, siswa dituntut, tidak hanya belajar materi yang diberikan oleh guru, tetapi mereka juga harus dapat memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. 

Pada model pembelajaran ini, terdapat istilah kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal yaitu kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang


Coba perhatikan siklus kerja model pembelajaran kooperatof tipe jigsaw dibawah ini:


Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
 
Dari bagan siklus kerja diatas bisa dilihat, anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan anggota kelompok lain yang memiliki topik yang sama, mereka disatukan dalam kelompok ahli, tugasnya untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok. Mereka harus saling membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. 

Guru berperan dalam memfasilitasi dan mengarahkan proses pembelajaran serta memotivasi anggota-anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Guru harus mempunyai keterampilan dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi setiap angota kelompok. 


Yang disebut dengan kelompok ahli ialah kelompok siswa yang anggotanya berasal dari kelompok lain. Mereka bertugas membahas materi yang diberikan guru. Setelah kelompok ahli berdiskusi mengenai materi tersebut. Masing-masing anggota kembali ke kelompok asalnya dan menjelaskan hasil diskusinya dan apa yang mereka temukan pada pertemuan di kelompok ahli.


Setiap anggota dari kelompok ahli harus mempunyai keahlian untuk mentransfer dan berbagi pengetahuan yang didapatkannya ke anggota lain di kelompok asalnya. Kunci dari model pembelajaran ini adalah interdependence (saling ketergantungan) untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah (problem solving) yang diberikan oleh guru. 


Menurut Arends dalam Ady (2009), Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:
  • Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang
  • Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
  • Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut
  • Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya
  • Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan.
Keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw:
  1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya
  2. Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat
  3. Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.
Resni (2009) juga mengungkapkan beberapa keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yaitu sebagai berikut:
  • Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi posisif diantara siswa yang memilik kemampuan belajar berbeda
  • Menerapkan bimbingan sesama teman
  • Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi
  • Memperbaiki kehadiran
  • Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar
  • Sikap apatis berkurang
  • Pemahaman materi lebih mendalam
  • Meningkatkan motivasi belajar.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000 : 18) yaitu: 
  1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi 
  2. Memperbaiki kehadiran 
  3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar 
  4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil 
  5. Konflik antara pribadi berkurang 
  6. Pemahaman yang lebih mendalam 
  7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi 
  8. Hasil belajar lebih tinggi.
Selain manfaat dan kelebihan, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw juga memiliki kelemahan yang bisa mengganggu proses belajar mengajar yaitu Resni (2009) sebagai berikut: 
  1. Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan ketrampilan-ketrampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet
  2. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkanmasalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi
  3. Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum terkondisi dengan baik, sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga menimbulkan gaduh.
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw tidak selamanya lancar, tetapi sering juga mengalami permasalahan. Beberapa permasalahan sering dijumpai Ady (2009) yaitu :
  1. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti.
  2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
  3. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi. 
  4. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.
Daftar Pustaka

Ady. 2009. Model Pembelajaran Jigsaw. http://ady-ajuz.blogspot.com
Ibrahim, M, dkk, 2000, Pembelajaran Kooperatif, Surabaya: Universitas Negeri Surabaya University Press
Resni, 2009, Macam Metode dan Model Pembelajaran, resni.student.fkip.uns.ac.id

0 komentar:

Post a Comment